SEMUA TENTANG PENDIDIKAN
Posted on September 01 2012 by aliffaliramadhan
1. Perbandingan sistem pendidikan tradisional dengan modern
(Kajian Sistem Pendidikan di Negara Jepang dan Amerika)
Jepang membuat kejutan baru. Kali
ini berkaitan dengan sistem dan prestasi di bidang pendidikan. Banyak
pengamat pendidikan dan pembangunan di Amerika Serikat melihat bagaimana
sistem pendidikan di Jepang telah berhasil mencetak tenaga kerja dengan
semangat, motivasi dan watak yang “pas” bagi pembangunan.
Sebagai suatu masyarakat yang sepenuhnya mengakui peran pendidikan
dalam pembangunan, para ahli di A.S. mulai menengok sistem pendidikan di
Jepang, sekaligus mengevaluasi sistem pendidikan di,A.S. sendiri. Maka
dibentuklah team Jepang dan A.S. yang bertugas untuk mengevaluasi pertemuan
antara Reagan dan Nakasone pada tahun 1983. Pada tanggal 4 Januari
tahun 1987, secara serentak di kedua lbu Kota negara diumumkan hasil
kerja team tersebut.
Team Amerika Serikat mengumumkan 128 halaman laporan yang oleh seorang pejabat di kantor pendidikan di Washington disebut sebagai suatu potret sistem pendidikan yang canggih. Dalam laporan tersebut, sebagaimana dikutip oleh Newsweek,
12 Januari 1987, dikemukakan bahwa murid-murid di Jepang diperkirakan
mempunyai IQ yang tinggi, buta huruf sudah tidak dikenal lagi. Di
samping itu berdasarkan tes yang telah distandardisir secara
internasional ternyata murid-murid SMA di Jepang memiliki skore di
bidang matematik dan sain lebih tinggi dari pada murid-murid SMA di A.S.
Tambahan lagi, penelitian ini mempertebal keyakinan para pengamat bahwa
pendidikan di Jepang telah memainkan peran yang penting dan sangat
menentukan dalam pembangunan ekonomi negara pada dua puluh lima tahun
terakhir ini.
A. Antara Menghafal dan Berfikir
Dimana
letak kehebatan sistem pendidikan di Jepang ? Para ahli dan pengamat
pendidikan boleh kecewa. Ternyata sistem pendidikan Jepang, kalau
dilihat dengan kacamata teori pendidikan barat, bisa dikategorikan
sebagai suatu sistem pendidikan tradisional. Pemerintah pusat memegang
kontrol pendidikan, termasuk menentukan kurikulum yang berlaku secara
nasional baik bagi sekolah negeri ataupun sekolah swasta. Pengajaran
menekankan hafalan dan daya ingat untuk menguasai materi pelajaran yang
diberikan. Materi pelajaran diarahkan agar murid bisa lulus ujian akhir
atau test masuk ke sekolah lebih tinggi, tidak mengembangkan daya
kritis dan kemandirian murid. Semua murid diperlakukan sama, tidak ada treatment khusus untuk murid yang tertinggal.
Sekolah menekankan pada diri murid sikap hormat dan patuh kepada guru dan sekolah. Dengan singkat
sistem pendidikan Jepang dapat dikatakan suatu sistem pendidikan yang
“kaku, seragam dan tiada pilihan bagi anak didik”. Di fihak lain,
sebanyak 78 halaman laporan team Jepang antara lain menyatakan pujiannya
atas fleksibilitas sistem pendidikan Amerika Serikat. Di samping itu,
juga disebut dan bahwa meski anak didik di Jepang memiliki prestasi
lebih tinggi dari pada prestasi anak Amerika, namun hal itu dicapai
dengan pengorbanan yang tidak ringan. Antara lain murid-murid di Jepang
tidak bisa “menikmati” enaknya sekolah.
Sebab
dari waktu ke waktu anak didik di Jepang dikejar-kejar oleh pekerjaan
rumah, ulangan dan ujian. Hasilnya murid-murid Amerika lebih independent
dan innovative dalam berfikir, dan juga sudah barang tentu lebih
bahagia dibandingkan dengan anak-anak didik di Jepang. Namun demikian,
kuranglah tepat kalau secara tegas ditarik kesimpulan bahwa sistem
pendidikan yang menekankan disiplin dan hafalan serta daya ingat
sebagaimana yang diterapkan di Jepang lebih hebat dari pada sistem
pendidikan yang menekankan kebebasan, kemandirian dan kreatifitas
individual sebagaimana yang diterapkan di Amerika Serikat.
Dibalik
sistem pendidikan di Jepang yang kaku dan seragam tersebut sebenarnya
ada beberapa hal yang patut dicatat. Pertama, dengan menegakkan disiplin
patuh terhadap guru dan sekolah menyebabkan anak didik di Jepang secara
riil menggunakan waktu sekolah lebih besar dari pada
anak-anak sekolah di Amerika Serikat. Kedua, sistem pendidikan di
Jepang telah berhasil melibatkan orang tua anak didik dalam pendidikan
anak-anaknya. lbu, khususnya senantiasa memperhatikan, memberikan
pengawasan dan bantuan belajar kepada anak-anaknya. Tambahan lagi,
lbu-ibu ini terus secara berkesinambungan membuat kontak dengan para
guru. Ketiga, di luar sekolah berkembang kursus-kursus yang membantu
anak didik untuk mempersiapkan ujian atau mendalami mata pelajaran yang
dirasa kurang. Keempat, status guru dihargai dan gaji guru relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan pekerjaan guru mempunyai daya tarik.
Di
fihak lain, pendidikan di Amerika tidaklah sebagaimana digambarkan
orang, dimana anak didik mempunyai kesempatan yang luas untuk
mengembangkan kreatifitasnya. Penelitian nasional yang dilakukan oleh
Goodlad yang kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul “A Place called school”
ternyata menunjukkan sesuatu yang lain. Antara lain disebutkan ternyata
hanya sekitar 5 % dari waktu jam pelajaran yang digunakan untuk
berdiskusi. Sebagian besar waktu, sekitar 25 % untuk mendengarkan
keterangan guru, sekitar 17 % waktu untuk mencatat dan sisa waktu yang
lain untuk praktek, mempersiapkan pekerjaan dan test. Jadi dengan kata
lain, sistem pendidikan di Amerika tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana
dicita-citakan para ahli.
B. Kiblat Pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar